MAHASISWI

Muslimah Intelektual: Bergerak dan Berkarya

S-intelektual muslimah yang ideal-2Hingga hari ini  Indonesia masih diliputi kehidupan yang suram; hidup dalam sistem kapitalisme sekular yang jauh dari cahaya Islam, diselimuti krisis multidimensi tanpa ada ketuntasan solusi.Kemurnian aqidah Islam terancam dengan fenomena aliran sesat yang merajalela dan aktifitas penistaan agama tidak ditindak tegas karena alasan HAM.  Sementara itu, perempuan yang seharusnya menjadi pilar baik buruknya negara telah ditempatkan sebagai komoditas, jauh dari kemuliaan yang telah dilekatkan syariat Islam pada dirinya. Gemilangnya cahaya Islam tidak bisa direalisasikan apabila petunjuk Islam tidak  disampaikan oleh para penyampai pesan yang ikhlas dan amanah. Sosok yang memahami kemuliaan cahaya Islam dan tak kenal lelah mendidik umat  untuk memahami cahaya petunjuk tersebut.  Panggung peradaban Islam tak hanya didominasi oleh laki-laki.  Perempuan muncul pula untuk memberi kontribusi. Mereka menunjukkan kecemerlangan pemikirannya dalam berbagai bidang. Hal ini telah bermula sejak zaman Nabi Muhammad saw dan para shahabatnya saat merintis masyarakat berperadaban.

Jika Oxford dan Cambridge (Oxbridge) merupakan simbol penting  pusat  ilmu  peradaban Inggris, maka Madinah danDamaskusadalahbutir mutiara sains yang banyak melahirkan  cabang ilmu pula.Dan sungguh, Madinah merupakan kota pendidikan yang lebih dahsyat dari Oxford dan Cambridge. Dahsyat bukan karena fasilitasnya, tetapi karena menghasilkan peradaban ilmu yang menyatukan iman, ilmu, amal dan jihad.

Di Oxbridge,jika seorang profesor bisa sangat pakar dalam ilmu fisika atau filsafat etika, maka pada saat yang sama dia bisa saja seorang homoseks, alcoholic dan meremehkan gereja. Akan tetapi, dia akan tetap dihormati karena penguasaan pengetahuannya.Sementara di Madinah, jika seorang ilmuwan memisahkan aqidah-akhlaq dengan  ilmu yang dikuasainya, maka kealimannya batal.

Seorang yang menjadi salah satu simpul sanad bagi sebuah hadits, jika dia ketahuan berdusta sekali saja, namanya akan tercatat sampai akhir zaman di kitab musthalahal hadits sebagai kadzab (pendusta) yang riwayatnya tidak valid.  Apalagi kalau dia sampai meninggalkan shalat dan bermaksiat.

Semuanya berawal dari Madinah.Madinahmenginspirasi Damaskus, Baghdad, Cordova, dan Istambul menjadi pusat peradaban dunia selama berabad-abad.  Kota-kota tersebut bersuka cita memetik butir-butir mutiara sains yang diberikan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Berbagai cabang baru ilmu pengetahuan (new branches of knowledge) di bidang astronomi, fisika, kedokteran, biologi, matematika, ekonomi, sastra, teknologi perang, sampai filsafat dijabarkan terus tanpa henti oleh para ulama. Mereka hafal Al-Qur’an, hafal ribuan hadits, beribadah, berinfaq, dan berjihad seperti para shahabat, pada saat yang sama mereka mengembangkan ilmu-ilmu baru dari semua yang diimani dan diamalkan itu. Inilah yang disebut oleh para ulama, “Orang Barat bisa maju karena meninggalkan agamanya, sedangkan kaum Muslimin hanya akan maju jika ia mendalami agamanya.”

Allah Swt pun telah menjamin orang-orang yang berilmu dalam Al-Qur’an: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS Al-Mujadilah [58]: 11).  Oleh karena itu, dengan menilik pentingnya ilmu untuk diamalkan sekaligus peran muslimah sebagai pendidik dan pencetak generasi, maka gambaran muslimahhendaknya adalah: “Menjadi perempuan unggul sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) yang melahirkan generasi cerdas taqwa pejuang syariah dan khilafah serta sebagai mitra laki-laki dalam membangun masyarakat Islam.”Salim T S Al Hassani, profesor emiritus di University of Manchester, Inggris, dalam tulisannya, ‘Women’s Contribution to Classical Islamic Civilisation: Science, Medicine and Politics’, menyatakan, selain dalam bidang agama mereka juga berkiprah di bidang ilmu pengetahuan.

Beberapa Teladan Intelektual Muslimah

Rufayda al-Aslamiyyah

Perempuan ini sering pula dipanggil dengan nama Rufayda binti Sa’ad. Ia dianggap sebagai perawat pertama dalam lintasan sejarah Islam, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad.  Dalam Perang Badar pada 13 Maret 624 Hijriyah, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan mengurus personel yang meninggal dunia.Rufayda juga dikenal sebagai sosok yang empatik dan organisatoris.

Shifa binti Abdullah

Shifa binti Abdullah bernama lengkapAl Shifa binti Abdullah al Qurashiyah al’Adawiyah. Kepiawaianya dalam bidang medis ditopang oleh kemampuannya dalam membaca.Ia pun menebar ilmu medis yang ia kuasainya, meski dalam hal yang sangat sederhana, seperti pengobatan terhadap gigitan semut.Rasulullah saw memintanya untuk mengajarkan hal itu kepada perempuan lainnya.Al Shifa memiliki multitalenta, karena ia pun sangat terampil dalam administrasi publik dan dikenal dengan kebijaksanaannya.

Nusayba binti Harith

Nusayba binti Harith Al Ansari hadir sebagai sosok lain. Ia merawat para prajurit terluka. Ia juga seorang tabib khitan.

Sutayta Al-Mahamli

Pakar matematika ini hidup pada paruh kedua abad ke-10. Ia berasal dari keluarga berpendidikan tinggi di Baghdad, Irak. Ayahnya, Abu Abdallah Al Hussein, menjabat sebagai seorang hakim yang juga penulis sejumlah buku, termasuk Kitab fi Al Fiqh dan Salat Al’idayn.Sejumlah sejarawan, Ibnu Al Jawzi, Ibnu Al Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir, memuji kemampuan Sutayta dalam matematika.Sutayta sangat menguasai hisab atau aritmatika dan perhitungan waris.Dalam aljabar, ia berhasil menemukan sebuah persamaan yang pada masa selanjutnya, sering dikutip oleh pakar matematika lainnya.Bidang ilmu lain yang juga dikuasainya adalah sastra Arab, ilmu hadis, dan hukum.

Labana dari Kordoba

Labana dikenal dengan kemampuannya menyelesaikan beragam masalah matematika yang sangat pelik, baik aritmatika, geometri, maupun aljabar. Saat itu, tak banyak ilmuwan laki-laki yang mampu memecahkan masalah sepelik itu.Labana menjadi sekretaris Khalifah Al Hakam II dari Dinasti Bani Ummayah. Jatuhnya jabatan sekretaris ke tangan Labana, menunjukkan khalifah tak mempetimbangkan jenis kelamin. Namun, ia lebih mementingkan kepandaian dan kemampuan yang dimiliki Labana.

Maryam Ijliya al-Asturlabi

Sementara itu, di bidang sains dan teknologi, meski diyakini ada juga banyak wanita muslimah yang terlibat, namun biografi mereka agak lebih sulit dikumpulkan.  Hal ini agak berbeda dengan bidang ilmu hadits, di mana setiap mata rantai hadits harus dilengkapi dengan biografi yang rinci. Namun cukuplah untuk menyebut nama Maryam Ijliya al-Asturlabi, seorang wanita astronom yang dijuluki “al-Asturlabi” karena memiliki kontribusi luar biasa dalam pengembangan Astrolab (sebuah alat penting dalam navigasi astronomis).

Demikianlah, gambaran beberapa teladan generasi muslimah dahulu. Di tengah arus globalisasi, selayaknya kita meninjau bahwa hendaknya ilmu disandingkan dengan iman dan amal. Sebagaimana Sabda Rasulullah: “Kami diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal (kecerdasan) mereka masing-masing.” (HR. Muslim).

Divisi Keputrian
Forum Kajian Islam Mahasiswa
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Penting Dibaca

Prediksi Kekuatan Militer Negara Khilafah

Jangan Tertipu dengan Kenikmatan Dunia!

Islam Menjawab Segala Problema

Find Us on Facebook

%d blogger menyukai ini: