TOREHAN TINTA SYABAB FKIM

Imam Bukhari, Teladan Bagi Penuntut Ilmu

imagesDi masa kejayaan umat Islam, kekuasaan Islam membentang dari Barat di wilayah Andalusia (Spantol) hingga Timur ke daerah China, termasuk wilayah nusantara dan sekitarnya. Diantara luasnya wilayah keagungan Islam itu, terdapat sebuah wilayah yang kelak akan melahirkan tokoh yang mempunyai kedudukan tinggi di dalam agama ini. Daerah itu adalah Bukhara, sebuah kota sebagai markaz (pusat ilmu) pada saat itu. Wilayah Bukhara (Uzbekistan) ini dahulu merupakan bagian kesatuan wilayah kaum muslimin. Namun dalam perjalanan sejarahnya, sebagaimana wilayah Asia Tengah yang lain, wilayah ini dianeksasi oleh Soviet tatkala Khilafah Utsmaniyah melemah.

Sedangkan tokoh yang terlahir dari kota tersebut adalah Muhammad ibnu Islmail al-Bukhari yang kemudian dikenal dengan Imam Bukhari. Beliau dilahirkan setelah Shalat Jum’at pada tanggal 13 Syawal 194 H atau bertepatan dengan tanggal 4 Agustus 810 M. Berasal dari keturunan keluarga yang memang dikenal ‘alim. Ayah beliau adalah seorang ‘alim dan seorang ahli hadits (Muhaddits) dan dikenal di tengah manusia sebagai seorang yang berakhlak baik dan luas ilmu pengetahuannya. Adapun Ibu beliau adalah seorang wanita shalihah, yang kewara’annya dan keshalihannya tidak kalah dibanding Ayah beliau.

Al-Bukhari tak sempat tumbuh dalam kelengkapan kasih sayang dari ke dua orang tuanya, karena Ayah beliau telah meninggal dunia terlebih dahulu. Selanjutnya ia diasuh dan dibesarkan oleh Ibunda beliau yang telah berjanni akan mengasuh degan penuh perhatian dan dengan ilmu pengetahuan.

Ibunda beliau selalu mendorong Bukhari untuk mencari ilmu, membuatnya mencintai ilmu, dan selalu menghiasinya dengan ketaatan. Maka tumbuhlah Bukhari sebagai pemuda yang berjiwa lurus, menjaga lisan, berakhlak mulia, bersemangat dalam ketaatan, dan tidak henti-hentinya dia menyempurnakan hafalan Al-Quran.

Meski mendapat warisan kekayaan yang lebih dari cukup dari orang tuanya, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk mencari ilmu. Beliau tidak terlena oleh kekayaan sebagaimana kebanykan para pemuda yang mempunyai prinsip, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati ..?”

Pada umur 16 tahun Bukhari menunaikan ibadah haji. Pada saat inilah, ketika Ibu dan saudara kembali ke kampung halamannya, Bukhari memilih tetap tinggal tingga untuk meraih sebanyak mungkin ilmu-ilmu dari para masyayikh.

Selama enam tahun Bukhari tinggal dan menimba ilmu dari para syaikh di kota Mekkah dan Madinah. Kemudian beliau berpindah-pindah di dunia Islam. Beliau turun ke Mekkah, Madinah, Wasith, Kufah, Basyrah, Damaskus, Qisariya, Asqolan, Khurasan, Naisabur, Marw, Hira, Mesir, dan yang lainnya. Bukhari bercerita tentang perjalananya, “ Saya masuk Syam, Mesir, dan Al-Jazair sebanyak dua kali, ke Basyrah sebanyak empat kali, saya tinggal di Hijaz selama enam tahun, dan saya tak bisa menghitung berapa kali saya masuk Kufah dan Baghdad.

Semua itu dilakukan dalam rangka menggali ilmu-ilmu hadits. Dalam perjalanan tersebut beliau telah bersusah payah menanggung beratnya perjalanan dan perpindahan.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika guru-guru beliau jumlahnya lebih dari seribu syaikh yang terpercaya lagi ‘alim. Diantara guru-guru beliau yang terkenal dan beliau meriwayatkannya dari mereka adalah, Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya Ibn Ma’in, Ishaq Ibn Rahawaih, ‘Ali Ibn Madini, Qutaibah Ibn Said, Abu bakar Ibn Abi Syaibah dan Abu Hatim ar-Razi.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, beliau kembali pulang ke Naisabur untuk tinggal di sana. Akan tetapi, sebagian ulama cemburu pada beliau. Maka bersegeralah mereka menuju Walikota dan melemparkan tuduhan kepada Imam Bukhari dengan tuduhan yang macam-macam. Maka, Imam Bukhari terpaksa pergi meninggalkan kota Naisabur menuju tempat kelahirannya di Bukhara.

Belum lagi beliau merasa tenang di Bukhara, penguasa kota setempat yang bernama Khalid Ibn Ahmad ad-Dahli memintanya untuk datang menhadap supaya memperdengarkan hadits-hadits kepadanya. Tapi hal ini ditolak oleh Imam Bukhari. Imam Bukhari tidak ingin merendahkan ilmu dengan menuruti keingain Sulthan.

Hal ini mengakibatkan kemarahan penguasa yang terjangkit penyakit ghurur tersebut. Sehingga kepongahannya mendorongnya untuk memprovokasi melawan Imam yang agung, bahkan telah mengiming-iming sebagaian orang yang bodoh untuk menyebarkan isu fitnah tentang Imam Bukhari dan melawan Imam Bukhari. Kemudian ia memerintahkan untuk mengusirnya dari kota.

Maka Imam Bukhari keluar dari Bukhara menuju Kartanak, yaitu salah satu desa di Samarqand. Dan di sanalah, Imam yang telah berjasa mengumpulkan dan menulis ribuan hadits ini akhirnya menghdap Rabbul Izzati.

Demikianlah kisah hidup Imam Bukhari, seorang yang dengan ilmunya mampu memberikan cahaya pengetahuan kepada umat manusia. Beliau telah memberikan teladan kepada kita mengenai semangat, kesabaran, ketekunan, keteguhan serta pengorbanan dalam menuntut dan menjaga ilmu. Meski rentang hidupnya sebagaimana manusia biasa, namun dengan ilmu yang beliau miliki, namanya tetap harum, dikenang umat manusia sepanjang zaman. Keagungan namanya sejajar dengan para Imam pemilki mazhab empat, para panglima besar serta para pembebas sebuah negeri dari kekufuran. [Faqih Fiddin]

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Penting Dibaca

Prediksi Kekuatan Militer Negara Khilafah

Jangan Tertipu dengan Kenikmatan Dunia!

Islam Menjawab Segala Problema

Find Us on Facebook

%d blogger menyukai ini: