TOREHAN TINTA SYABAB FKIM

SOSOK ULAMA GENERASI PERTAMA

ReligiousAbdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hisyam (Ibnu Abbas) adalah salah seorang sahabat yang masih sangat belia saat melafalkan syahadat (masuk Islam). Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Sejak kecil beliau sudah menunjukkan kecerdasan, kesungguhan dan rasa ingin tahunya terhadap suatu masalah. Rasulullah saw. mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.

Rasulullah saw sering terlihat berdua bersama si kecil Abdullah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, Rasulullah saw mengajak Ibn Abbas ra. berjalan-jalan seraya menyampaikan prinsip risalahnya kepada pemuda cilik ini, “Yaa Ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna?”

Jagalah (ajaran-ajaran) Allah swt, maka engkau akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah swt, maka engkau akan mendapatkan-Nya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada Allah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis (pada Lauhul Mahfudz). Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditakdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditakdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakanlah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif, dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran, dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat kegagalan, dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan.” (H.R Ahmad, Hakim, Tirmidzi)

Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan amal yang beliau langsung terima dari Rasulullah saw. Maka, Abdullah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, ummahatul mu’minin, Maimunah binti al-Harits. Ketika itu ia melihat Rasulullah saw. bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana Rasulullah saw. berwudhu. Rasulullah saw. yang berkepribadian agung itu tidak menyepelekan hal ini. Beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo’akan, “Allahumma faqihu fiddin wa ilmuhu bi ta’wil (Yaa Allah, faqih-kanlah Ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah Ia tafsir kitab-Mu.”

Kemudian Rasulullah saw. berdiri untuk qiyamullail yang dimakmumi oleh istri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw. kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengan Rasulullah saw, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai shalat, Rasulullah saw. mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang utusan Allah swt. Rasalullah saw. ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do’anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Rasulullah saw. wafat, Ibnu Abbas berusia 13 tahun dan beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Ia segera mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior perihal ajaran Rasulullah saw. dan Islam itu sendiri. Logika Ibnu Abbas saat itu Ia mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencar ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat.

Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau tugas dakwahnya. Bahkan kalau sahabat tadi sedang beristirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, torgolek beralaskan pakaiannya. Inilah yang terjadi pada saat beliau ingin mendapatkan satu hadits Rasulullah saw. pada salah seorang sahabat senior. Tentu saja sahabat ini terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, “Oh, keponakan Rasulullah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?” “Tidak,” kata Ibnu Abbas, ”Sayalah yang harus datang menemui Anda.”

Demikianlah sekilas masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Umar bin Khatthab selalu mengundang Ibnu Abbas “Pemuda Tua” dalam majlis syuronya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Saad bin Abi Waqqosh melukiskannya, “Tak seorangpun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berpikir dan lebih banyak dapat menyerap ilmu serta lebih luas sifat santunnya dari Ibnu Abbas! Dan sungguh , kulihat Umar memanggilnya dalam urusan-urusan pelik, padahal sekelilingnya terdapat para sahabat dari Muhajirin dan Anshar yang terlibat pada Perang Badar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya.”

Ibnu Abbas kemudian terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fiqihnya yang mendalam, menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun. Tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata, ”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Rasulullah saw. serta keputusan-keputusan yang dibuat Abu Bakar, Umar dan Utsman.”

Begitu pula tentang ilmu tafsir, bahasa arab, sya’ir, ilmu hitung dan fara’id. Bahkan Ibnu Abbas adalah salah seorang peletak dasar ilmu tafsir yang menjadi rujukan para ulama generasi setelahnya. Karena begitu luas keilmuannya, suatu hari seseorang bisa menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. “Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan begitu khusu’ nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

Beginilah Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior, mendapatkan pendidikan. Beliau menyampaikan rahasia tentang ilmu yang dimilikinya dengan sebuah ungkapan, “Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berpikir.”

Abdullah bin Abbas ulama generasi pertama umat ini, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68 H. Sahabat Abu Hurairah ra. berkata, “Hari ini telah wafat ulama ummat. Semoga Allah swt. berkenan memberikan pengganti Abdullah bin Abbas.” [Faqih Fiddin]

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Penting Dibaca

Prediksi Kekuatan Militer Negara Khilafah

Jangan Tertipu dengan Kenikmatan Dunia!

Islam Menjawab Segala Problema

Find Us on Facebook

%d blogger menyukai ini: