NEWS

Kover Besar Kenaikan Harga BBM

SPBUMenjelang tengah malam, di semua pom bensin di negeri ini, mobil dan motor berjajar membentuk antrean yang sangat panjang. Dan tepat pukul 00.00, 1 Oktober 2005, BBM naik. Rakyat pingsan keesokan harinya. Kenaikan BBM selalu mengerikan dan bikin bulu kuduk berdiri; berapakah lagi rakyat yang akan segera jatuh pada lembah kemiskinan yang baru? Jangan heran saja makanya jika keesokan harinya, semua harga juga ikut melambung tinggi. Beras naik. Tahu naik. Minyak tanah sudah entah kemana. Di berbagai pelosok, banyak warga yang kembali memakai kayu bakar sebagai alat untuk menanak nasi atawa menggoreng makanan. Di pabrik dan perusahaan, karyawan semakin merasa tak nyaman saja bekerja. Kenapa pasal? Kenaikan harga BBM, bukannya malah membikin gaji naik. Eh malah ada ancaman pengurangan karyawan alias PHK alias berhenti kerja! Alamat makin banyak pengangguran.

Tapi, tenang. Sejak dulu—maksudnya lima atau sepuluh tahun lalu, pemerintah selalu menyiapkan kompensasi. Rp. 100 ribu untuk setiap keluarga miskin. Sekarang jad Rp 150. 000. Naik sedikit, lumayan lah. Ah, ah, ah, dengan kondisi hari ini, seratus lima puluh ribu, cukup apa toh? Terjadi tarik ulur. Buat makan atau buat modal atau buat bayaran sekolah anak-anak?

Memangnya cukup? Belum lagi ditambah dengan begitu ribetnya untuk mengambil dana kompensasi BBM itu.

Padahal, tiga pekan kemudian, Ramadhan hari pertama datang. Kita semua tahu, BBM tak dinaikan pun, setiap bulan Ramadhan, harga-harga otomatis melonjak tinggi di negeri ini. Apalagi Lebaran. Apakah uang seratus lima puluh ribu rupiah kemudian ada artinya? Rakyat hanya bisa pasrah. Dan menangis.

1 Oktober 2005. Menjelang petang. Rakyat masih berkalang kabut dengan tanah dan keresahan hidup. Di Bali, bom meledak lagi. Guncangannya hebat. Menurut laporan, 25 orang tewas. Lebih dari seratus orang luka-luka. Bukan hanya warga negeri ini. John Howard, Perdana Menteri Australia ketika itu, kembali mencak-mencak. Persis seperti tragedi Bom Bali 1 beberapa tahun sebelumnya. Bali segera di-sweep. Polisi dan intelijen asing ikut ambil bagian sebagai pihak yang merasa berkepentingan.

Al hasil, guncangan Bali sebenarnya juga mengguncang Indonesia. Ibaratnya, nonton film actionHollywood yang mengandung drama, thriller, dan suspense. Ada jeda rakyat lupa akan kenaikan BBM yang belum satu hari itu. Seolah-olah Bom Bali adalah “episode hiburan” tersendiri setelah sekarat karena naiknya BBM.

Antara Bom Bali dan kenaikan BBM yang cuma berbeda 12 jam itu, bisa jadi sangat mungkin dua hal yang terpisah. Tapi kalau kita lihat lagi ke belakang, pas kenaikan BBM yang pertama tahun 2005, ada kejadian yang hampir serupa walau berbeda kasus. Ingat kan kenaikan BBM pertama dulu diikuti dengan isyu konfrontasi Ambalat dengan Malaysia? Atau flu burung yang kejadian sesaat setalah PLN juga menaikan tarif listriknya?

Tahun 2013 ini apa kover besar untuk mengalihkan rakyat seolah lupa akan kenaikan BBM? KPK VS PKS sudah lewat. Hambalang atau Century tidak tuntas-tuntas.  Jadi apa? [islampos]

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Penting Dibaca

Prediksi Kekuatan Militer Negara Khilafah

Jangan Tertipu dengan Kenikmatan Dunia!

Islam Menjawab Segala Problema

Find Us on Facebook

%d blogger menyukai ini: